MENYELAMI KHAZANAH PEMIKIRAN ISLAM DARI BUKU “ISLAM TUHAN, ISLAM MANUSIA” (BAGIAN I)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Haidar Bagir seorang penulis yang concern dalam bidang pemikiran telah menghasilkan buah-buah pemikiran yang konstruktif, terlihat dari buku-buku yang ia tulis seperti Buku Saku Tasawuf, Buku Saku Filsafat Islam, Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan dan beberapa lainnya dalam bidang tasawuf tentang Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi dan buku Islam Tuhan, Islam Manusia yang akan dibahas dalam tulisan singkat ini.

Para tokoh banyak yang mengapresiasi kiprah Haidar Bagir, seperti Buya Syafii Maarif mengatakan bahwa “Haidar Bagir adalah pemikir muslim yang tidak henti-hentinya bersuara melalui gagasan-gagasan reflektifnya yang segar dengan menguak sisi-sisi yang peka sekalipun dalam khazanah pemikiran Islam” demikian juga dengan KH. Mustofa Bisri “Haidar Bagir adalah pembaca dan pengamat zaman dan dinamika manusia di dalamnya.”

Buah pemikiran dalam bentuk tulisan dari alumni Jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI) ini sering terpampang di koran-koran nasional yang membahas isu-isu terkini dalam kehidupan sosial dan beragama, begitu juga dengan buku Islam Tuhan, Islam Manusia merupakan kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan di berbagai media massa selama satu dekade terakhir.
Sumbangan pemikiran Haidar Bagir dalam tulisannya telah memusatkan perhatian pada persoalan pentingnya mengembalikan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat maupun dalam pemikiran dan penghayatan Islam di kalangan umat Islam, Haidar Bagir melihat tulisan-tulisan yang ditulis sebelumnya masih memiliki concern yang sama dengan tulisan yang ia tulis pada masa-masa belakangan dalam karirnya sebagai penulis dan jadilah tulisan tersebut dalam bentuk buku ini.

Haidar Bagir memberi judul bukunya dengan “Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau” dari judulnya saja sudah memantik untuk menyelami khazanah pemikiran Islam, sebagaimana yang ia ungkapkan bahwa ada hal yang ingin dijelaskan dalam judul buku ini. Pertama adalah, bahwa meski bagi orang-orang beriman Islam dipercayai sebagai berasal dari Tuhan tapi sesungguhnya, begitu sampai pada manusia, Islam Tuhan itu telah menjadi Islam manusia.

Makna kedua adalah bahwa agama diturunkan Tuhan bagi keperluan manusia, bukan keperluan Tuhan, mudah dipahami bahwa Tuhan tak butuh agama. Persisnya, Nabi diutus untuk membawa Islam yang dapat menjadi sumber rahmat (belas kasih) bagi segenap alam semesta. Bahwa Islam manusia merupakan pemahaman Islam yang bernilai relatif dan parsial serta didialogkan dengan problem kemanusiaan dengan tujuan menjadi rahmat untuk seluruh alam semesta dan itu semua hanya mungkin jika Islam dipahami sebagai agama cinta.

Isi buku ini terdiri dari lima bagian, setiap bagian mempunyai cabang pembahasan yang luas dan menarik untuk dibaca: mulai dari bagian masalah (Islam di zaman kacau), khazanah pemikiran Islam, pendekatan dialog intra Islam, pendekatan dialog antar agama, peradaban, budaya dan bagian terakhir yaitu solusi (solusi atas masalah-masalah yang dihadapi umat manusia diseluruh belahan dunia).

Baik kita akan mulai dari bagian awal yang membahas tentang masalah, maksudnya disini adalah perhatian pada masalah-masalah besar yang sedang dihadapi oleh umat manusia di seluruh belahan dunia, khususnya umat Islam dan Islam yang berada di dalam zaman kacau. Masalah-masalah tersebut antara lain: dunia kita yang sedang meluruh, Marilyn Ferguson seorang reporter terbaik di bidang ilmu-ilmu kemanusiaan, menyatakan bahwa di penghujung abad ke-20, umat manusia beranjak ke suatu zaman yang disebutnya sebagai “zaman aquarian” zaman hilangnya dahaga spiritual umat manusia yang dideritanya sejak awal kehidupan.

Masalah selanjutnya yang dikatakan oleh Haidar Bagir adalah negeri kita sudah lama kosong strategi budaya atau bergerak ke arah ketunabudayaan padahal budaya adalah soal menjadi manusia. Manusia spiritual, manusia estetis, manusia sadar dan berpikir. Nah, masalah selanjutnya yang sangat menarik perhatian saya adalah tentang “zaman kacau” yang mana zaman kacau ini karena kedahsyatan media dalam membentuk cara pandang hidup masyarakat hingga menjadi zaman kacau.

Terlalu banyak informasi justru menyebabkan orang kebingungan, lahir generasi-generasi internet oleh Nicholas Carr, disebut sebagai The Shallows (orang-orang dangkal) yang terbiasa menyantap informasi instan dan tanpa kedalaman. Bukankah zaman kacau sudah terjadi saat ini dengan berita-berita bohong (hoax) yang membuat kehidupan sosial menjadi destruktif?

Masalah keempat yang diangkat oleh Haidar Bagir adalah “Akar Ideologis Radikalisme” Noor Huda Ismail menyitir gagasan tentang lethal cocktail (campuran mematikan) terkait 3 faktor mendorong orang terlibat dalam kekerasan atau terorisme, yaitu: individu yang termarjinalkan, kelompok yang memfasilitasi, dan ideologi yang membenarkan. Oleh karena itu, tugas agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu paham keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit dari kaum radikalisme.

Masalah yang terakhir adalah takfirisme, fenomena Khawarij menandai terbentuknya takfirisme (takfiriyyah) dalam Islam yaitu perumusan suatu doktrin pengafiran yang mereka percayai berdasarkan pada ajaran Alquran. Doktrin Khawarij ini berbahaya dalam beragama karena sikapnya yang berlebih-lebihan dalam memahami agama sehingga orang cenderung melakukan tindakan-tindakan yang menyalahi agama seperti melakukan radikalisme dan terorisme.

Bahkan Ali ibn Abi Thalib sebelum menghembuskan nafasnya memberikan wasiat kepada kedua anaknya Hasan dan Husain, wasiat tersebut adalah “Orang-orang (Khawarij) ini masih akan terus dilahirkan dari tulang-tulang sulbi ayah mereka.”

Doktrin tentang takfir bukanlah sekedar sikap suka mengafirkan kelompok-kelompok musim lain yang bukan kelompoknya, melainkan mengembangkan doktrin khusus elaboratif tentang takfir yang cukup sophisticated berdasar pemahaman tentang ajaran-ajaran agama sebagaimana terbaca dalam teks-teks keagamaan yang ada, baik dalam Alquran, hadis maupun pemikiran kaum salaf.

Nah, setelah membaca ulasan singkat dari permasalahan yang sedang dihadapi umat manusia. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa masalah yang sedang dihadapi umat manusia di belahan dunia ini meliputi: hilangnya dahaga spiritual umat manusia, kosongnya strategi budaya atau negeri sudah bergerak ke arah ketunabudayaan, zaman kacau disebabkan oleh media, akar ideologis radikalisme dan masalah takfirisme sesama muslim dan fenomena ini diawali oleh aliran Khawarij.

Demikianlah ulasan singkat dari buku “Islam Tuhan, Islam Manusia” dan akan dilanjutkan pembahasannya pada (bagian II), mudah-mudahan para pembaca budiman membaca buku ini dan menyelami khazanah pemikiran Islam yang sangat luas, pada (bagian II) akan kita lihat betapa luasnya pemahaman Islam (tidak sempit) sehingga dengan membaca buku ini bisa menambah wawasan pengetahuan dan meningkatkan wawasan berpikir. Semoga!

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni, Kolumnis LintasGAYO,co. Magister Pemikiran Dalam Islam UIN Ar-Raniry

Sumber: https://lintasgayo.co/2019/08/28/menyelami-khazanah-pemikiran-islam-dari-buku-islam-tuhan-islam-manusia-bagian-i