Belum lama ini, sebuah pengamatan menarik tentang radikalisme keagamaan, khususnya di kalangan anak muda, diungkapkan Prof Oliver Roy, seorang ahli di bidang terorisme dan ‘jihad’ dari Prancis. Dari banyak pengamatannya yang menarik, Prof Roy menunjukkan para pelaku teror, termasuk dari kalangan muda yang paling rentan terbujuk rayu oleh kelompok-kelompok radikal, justru bukanlah orang-orang yang penghayat­an agamanya kuat. Tak juga mereka memiliki pengetahuan agama yang cukup. Bahkan, banyak di antara mereka yang tadinya ialah orang-orang dengan masa silam yang gelap seperti pencandu narkoba, pelaku kegiatan seks bebas, dan sebagainya.

Umumnya perubahan atas diri anak-anak muda ini terjadi secara tiba-tiba. Dengan kata lain, ada fenomena born-again, yang dicirikan ayunan bandul dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Sebelumnya mereka ialah orang-orang yang jauh dari agama, lalu secara mendadak terkonversikan menjadi penganut agama yang ekstrem atau radikal. Benar, yang menonjol sebagai pelaku saya cenderung menyebutnya korban fenomena ini ialah anak-anak muda yang labil dan belum matang, sekaligus memiliki temperamen dan semangat yang meluap-luap. Mudah diduga bahwa dalam segenap ketidakmatangan dan kejahilan mereka akan ajaran agama, anak-anak muda ini mendapatkan info-info instan yang menyesatkan dari guru-guru yang radikal, atau dari internet dan media sosial yang mereka akses. Di sisi lain, ada fenomena modern menyusutnya ketahanan keluarga di tengah masyarakat.

Problem terbesar ketahanan keluarga ini ialah berkembang pesatnya teknologi informasi dan derasnya arus informasi yang dihasilkannya jika dibandingkan dengan kemampuan keluarga dalam memberikan informasi alternatif sebagai bagian fungsi pendidikan yang harus diselenggarakannya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa institusi keluarga di zaman sekarang ini mendapatkan berbagai tekanan. Termasuk gempuran tuntutan ekonomi yang makin meningkat, antara lain akibat makin complicated dan makin canggihnya kemampuan dunia industri dalam menciptakan berbagai artificial needs (kebutuhan yang diada-adakan atau dikesankan sebagai kebutuhan, meski sesungguhnya orang bisa hidup tanpanya).

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *