ISRA’ MI’RAJ REVISITED

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh: Haidar Bagir

Isra’ Mi’raj adalah salah satu tonggak paling penting dalam karier kenabian Muhammad saw. Saat di mana sang ciptaan bertemu Sang Pencipta, sang hamba bertemu Tuannya, sang penerima wahyu ber-“muka-muka” dengan Sang Pemberi Wahyu. Saat yang tadinya keduanya hanya berkomunikasi sebagai dua entitas, kini menyatu nyaris tanpa batas. Tentu saja, bukan persatuan antara Muhammad saw dengan tanzih DzatNya – Maha Suci dan Mahatinggi Allah dari ini – melainkan dengan tasybihNya: tanazzul (turunan)/ta’ayyun (pembatasan-Diri yg Dia lakukan sendiri atas diriNya) atau faydh (emanasi/limpahan)-Nya,*) betapa pun dalam martabat tanzih yang tertinggi. Waktunya adalah di “Tahun Kesedihan” (‘Aam al-Khuzn), saat Nabi ditinggal pergi dua pendukungnya yang paling gigih, Abu Thalib pamannya, dan Siti Khadijah isteri kinasihnya. Jadi, secara simbolik isra’ mi’raj juga merupakan penghiburan, yang berarti juga kulminasi dalam bentuk pencerahan spiritual setelah tahun-tahun penempaan yang paling sulit dan penuh ujian dalam kehidupan Sang Nabi.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Isra’:1)

Ya, isra’ mi’raj adalah perjalanan penuh keajaiban. Perjalanan melintasi jarak fisik yang panjang, bahkan jarak khayali dan ruhani tanpa batas ruang-waktu. Lalu, bagaimana semua itu bisa terjadi begitu cepat? Maka, kalau harus dengan jasad, para ‘urafa’ cenderung memahami bahwa Rasulullah menjalani isra’ mi’raj dengan jasad barzakhinya. Karena jasad barzakhi tak terikat waktu linier (zaman), melainkan dahr (waktu siklikal/perpetual). Jasad barzakhi ini disebut juga jasad imajinal atau jasad khayali yang, sejajar dengan itu, memiliki daya imajinal atau daya khayal.

Kalau terkait isra’ saja, mungkin selalu bisa dipahami bahwa perjalanan itu bersifat fisik. Dan sebagian orang telah mencoba menjelaskannya dengan penjelasan fisika modern. Toh, kalau mau, bahkan Allah Swt bisa memberi Nabi saw fasilitas sarana transportasi yg menyebal dari yang normal (khaariqul ‘aadah).

Meski bukan tak ada ahli yang menyebut isra’ sebagai perjalanan khayali (imajinal), ibn ‘Arabi termasuk yang berpendapat bahwa isra’ adalah perjalanan fisik.

Kata “asraa” sendiri juga sudah mengimplikasikan perjalanan malam. Dan hal ini masih ditegaskan lagi dengan kata keterangan waktu “laylan” (di waktu malam). Menurut ibn ‘Arabi hal ini mengindikasikan bahwa perjalanan isra’ adalah perjalanan fisik dalam ruang-waktu (linear). Penunjukan kepada waktu malam, menurut Syaikhul Akbar lebih lanjut, sekaligus menyimbolkan keadaan kegelapan, yang atas latar belakang itu, pencerahan (kasyf, penyingkapan tirai/kegelapan) oleh nur Allah paling tampak nyata. Kenyataannya, memang di malam hari para pejalan menuju Tuhan diminta menyendiri dari manusia, dalam sunyi dan sepi, lalu berdua-dua denganNya. Agar dengan demikian Allah dapat berbicara terang dan nyaring kepadanya.

Lalu, bagaimana halnya dengan mi’raj? Allah berfirman:

 أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى  وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى  عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى  عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى  إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى  مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى  لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Apakah mereka hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?  Sesungguhnya Muhammad telah melihatNya pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga ma’wa (tempat tinggal para hambaNya), ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.  Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.  Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 12-18)

Pada sebagian terjemahan al-Qur’an (termasuk terjemahan versi Depag), partikel” hu” dalam ayat tersebut dipahami sebagai Jibril, padahal jelas dalam hadis bahwa Jibril sendiri menyampaikan bahwa ia tak bisa ikut ke Sidratul Muntaha, ke pohon sidra terjauh tempat sang kekasih akan bertemu Sang Pengasih. (Ini saja, inter alia, sudah menunjukkan bahwa – jika makhluk spiritual seperti Jibril tidak bisa mencapai, apakah jasad kasar akan bisa mencapai?). Dan berhenti “hanya” di langit ketujuh. Maka partikel “hu” itu maknanya Allah sendiri, yang dilihat Nabi di martabat Ahadiyah. Demikian juga dalam ayat:

. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى

“Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad saw sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (An-Najm 8-9).

Sekali lagi, bagi para ‘urafa’, “dia” di situ harusnya ditulis “Dia”, yakni Allah, bukan Jibril. Hingga, untuk lbh menjelaskan pemahaman ini, kini tiba waktunya untuk memahami makna metafora qaaba qawsayn (dua ujung busur anak panah), yang dipakai al-Qur’an.

Dan begini ringkasan penjelasan Ibn ‘Arabi:

Jika dua busur disatukan, maka akan terbentuk lingkaran. Dan, berbeda dengan garis, dalam lingkaran semua titik bisa menjadi titik awal, dan semua titik dapat menjadi titik akhir. Tak jelas lagi di situ mana (tanazzul) Allah Swt – dan mana Rasul saw… Bahkan lebih dekat lagi. Karena betapa pun lingkaran masih menyisakan jarak. Padahal keduanya sudah menjadi satu…

Maka mi’ raj sesungguhnya adalah kepulangan Nabi saw kepada rumah asalnya. Kepada Dia Swt, yg terhadapnya al-Qur’an menyebut Nabi saw sebagai mitsil (yang seperti)-Nya:

Laysa ka mitsli-Hi syai’

“Tak ada sesuatu yang seperti sesuatu yg mirip denganNya” (QS asy-Syura: 11)

Yakni saat kembalinya sang Nabi ‘Arab kepada sang Rab, saat kembalinya Sang Ahmad kepada Sang Ahad…

A’lahumma shallii alaa Muhammad wa aali Muhammad…

*) Seperti kata, al., Abdurrauf Singkili, meski dia sendiri seorang’ Arif Wujudiyah, selamanya hamba tetap hamba dalam taraqqi (pendakian spiritual)-nya, dan Tuhan tetap Tuhan dalam tanazzulNya