Apakah seorang Muslim yang baik harus menjauh daripadanya, atau justru dianjurkan merasakannya selama tidak berlebihan?

Marilah kita mulai dari mengutip sebuah hadis Nabi saw:

“Andaikata kalian tahu apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” (HR Bukhari-Muslim).

Hadis ini kiranya tak bisa dijadikan dasar agar kita terus bersedih dalam hidup di dunia. Kita tak tahu apakah yang diketahui Rasul dan tidak kita ketahui itu? Apakah nasib umat beliau sepeninggalnya?  Atau kelakuan mereka yang banyak melanggar ajaran beliau? Atau adanya masa-masa kelak yang di dalamnya umat Islam tertinggal di segala bidang, dan sebagainya. Toh itu pengetahuan yang hanya diketahui Nabi saw secara eksklusif?

Memang ada kemungkinan yang beliau maksud adalah kedahsyatan kehidupan setelah mati dengan hisab dan balasan bagi orang-orang yang lalai.

Tapi, ada juga hadis yang sejalan dengan ini, yang tampaknya memperkuat dugaan tentang hal yang saya sebut terakhir di atas.

“Siapa yang banyak tertawa di dunia akan banyak menangis di akhirat”.

Hadis ini bisa juga menunjuk pada orang-prang yang lalai, yang menjadikan agama mereka sebagai permainan, atau barang yang dijual dengan harga murah demi kenikmatan duniawi. Atau bisa juga tentang orang-orang yang mengumbar kenikmatan dunia atau berlebihan di dalam hal ini. Dalam hubungan ini Rasulullah saw bersabda:

“Tinggalkanlah sifat bersenang-senang secara berlebihan (at-tana’um), karena hamba Allah yang sejati bukanlah orang yang gemar bersenang-senang” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Kenyataannya, Rasulullah sendiri kadang berhumor, bermain-main dengan istri beliau, tentu saja juga dengan anak-anak, dan membiarkan permainan di kalangan kaum Muslimin. Juga diriwayatkan Nabi mendengarkan musik (semacam kecapi).

Diriwayatkan (oleh Bukhari-Muslim), misalnya, Sayyidah ‘A’isyah bermain boneka (dalam riwayat Abu Dawud, bermain boneka kuda bersayap), juga bermain dengan teman-temannya, sementara Rasul sangat bahagia dengan kehadiran dan permainan mereka.

Sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan, pada hari Idul Adha, Abu Bakar pernah menjumpai Rasulullah di kediaman ‘A’isyah. Saat itu, di samping ‘A’isyah ada dua gadis yang sedang bernyanyi dan memukul gendang. Abu Bakar lantas ingin mengusir kedua gadis itu.

Namun Rasulullah mencegah Abu Bakar dan berkata, “Biarkanlah mereka itu, hai Abu Bakar. Sebab, hari raya adalah hari raya (hari bersenang-senang).” Dalam versi lain disebutkan bahwa Rasulullah juga menyabdakan:

“Orang-orang punya hari-hari khusus untuk makan-makan dan bersenang-senang”. Bahkan ada hadis, meski disebut-sebut sebagai dha’if, yang menganjurkan untuk bersenang-senang dan bermain-main: الهوا والعبوا فاني اكره ان يرى في دينكم غلظة

“Bergembiralah dan bermain-mainlah! Saya tidak suka melihat kekakuan dalam agama kalian”. (HR Bayhaqi).

Masih ada satu lagi hadis yang sering dikutip untuk menunjukkan bahwa seharusnya orang Muslim menganggap dunia sebagai tempat yang menyedihkan.

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin”.

Untuk menjelaskan hal ini, cukuplah saya kutip di sini dialog Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib dengan seorang kafir.

Pernah suatu ketika seorang kafir yang membenci Imam Hasan bin ‘Ali mencegatnya dan berkata: “Kakekmu (Nabi Muhammad) telah mengatakan, bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang beriman. Namun Anda tinggal di dalamnya dengan penuh sukacita.”

Hasan bin ‘Ali menjawab:

“Hidupku, meski enak dan menyenangkan di dunia ini, bila dibandingkan dengan sukacita dan kebahagiaan yang akan kudapatkan di akhirat kelak, adalah ibarat neraka. Bayangkan betapa kesenangan yang akan kudapatkan jika aku masuk ke dalam surga-Nya? Sedangkan hidupmu, di dunia ini saja sudah sulit, sedang di akhirat akan lebih sulit lagi!” (Tentu, maksudnya jika si kafir itu tetap dalam kekafiran sampai akhir hayatnya)

Saya kira kesimpulannya  kembali kepada prinsip-prinsip Islam wasathiyyah. Ada waktu-waktu kita menangis—entah karena takut kepada Tuhan yang ridha-Nya selalu kita harapkan, atau karena penyesalan atas dosa-dosa yang kita lakukan, atau karena terharu merasakan pengalaman spiritual kedekatan dengan Allah Swt. Tapi, ada pula waktu bersenang-senang. Yang dilarang itu adalah bersenang-senang tanpa batas/berlebihan sehingga kita menjadikan kehidupan beragama ini sebagai ajang mengumbar hawa nafsu dan melupakan kewajiban kita untuk beribadah kepada Allah dan beramal shalih. Atau bersenang-senang tanpa aturan sehingga melanggar ajaran syariat. Selebihnya, menikmati anugerah Allah secukupnya dalam koridor yang diizinkan oleh syariat, demi melapangkan hati dan jiwa agar lebih bersemangat untuk berbuat baik, adalah justru dianjurkan agama.  Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin mengutip:

و قال على رضى اللّه عنه، روحوا القلوب ساعة، فإنها إذا أكرهت عميت،

Kata Ali ra: “Hibur hatimu sejenak; sebab jika ia dipaksa, malah akan buta/menolak”.

Dalam kitab yabg sama juga diriwayatkan:

و كان أبو الدرداء يقول: إنى لأستجم نفسى بشي‏ء من اللهو، لأتقوى بذلك فيما بعد على الحق‏

Abu Darda’ pernah berkata: “Aku menghibur jiwaku dengan candaan, agar aku makin semangat mengerjakan kebenaran setelahnya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *