Oleh Haidar Bagir

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا  لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ  فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan hidup dari jenismu sendiri (manusia), supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta (mawaddah/cinta) dan kasih sayang (rahmah/welas asih). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda-Nya bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum [30]:21)

Ayat ini tak pernah lepas dicantumkan di undangan-undangan pernikahan, atau dibaca oleh penasihat perkawinan, bahkan oleh para qaari’ ketika membaca al-Qur’an di dalam acara-acara akad nikah. Sedangkan ucapan “semoga samara” atau “semoga samawa” juga sdh menjadi buah bibir setiap kita mendengar adanya pernikahan di antara seorang lelaki dan perempuan. Tapi jarang kita membahas kenapa Allah sampai menutup ayat ini dengan menyatakan bahwa (hikmah) perkawinan itu sungguh adalah tanda-tanda Allah bagi orang yg berpikir? Mari kita bahas hal ini dari perspektif tasawuf, khususnya dlm pandangam Syaikh al-Akbar ibn ‘Arabi.

Pertama, bahwa hidup berpasangan antara laki-laki dan perempuan adalah fitrah sebagaimana Allah jadikan segala sesuatu berpasangan:

مِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat [51] : 59)

Selanjutnya, dapat difahami dari lanjutan ayat di atas bahwa perkawinan adalah sarana untuk membina ketenteraman yang membawa kebahagiaan. Istilah yang memiliki akar kata yang sama – yakni sa-ka-na (سكن) – misalnya dipakai Allah dalam menggambarkan ketenteraman dan kebahagiaan di surga, ketika dia perintahkan kepada Adam:

وَقُلْنَا يَا آَدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

“Dan Kami firmankan: Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu dalam surga ini…” (QS al-Baqarah [2]: 35].

Yakni, demi meraih kebahagiaan hidup.

Lebih jauh dari itu, ayat yang sama menjelaskan bahwa untuk keperluan itu Allah menjanjikan untuk memberkahi perkawinan dengan cinta dan welas asih.

Apakah kedua kata ini bermakna sama? Tentu tidak. Allah Maha Bijaksana sehingga tak akan memilih kata-kata dalam Kitab SuciNya kecuali setiap kata memiliki pesan yang penting dan mendalam. Kenyataannya, dalam bahasa Arab ada perbedaan makna kedua kata itu. Mawaddah (cinta) adalah kecenderungan kepada sesuatu karena kesempurnaan sesuatu itu. Dalam hal perkawinan, ini terkait dengan kemudaan, daya tarik seksual, dan kelebihan-kelebihan lain ketika pasangan masih berumur muda. Sedang rahmah (welas asih) adalah cinta kepada sesuatu, meskipun (atau, justru karena) sesuatu itu tidak sempurna. Dan hal ini ditafsirkan sebagai kecintaan yg ada di antara pasangan hidup yang sudah menua,ketika semua kesempurnaan fisik itu sudah mulai berkurang. Dengan kata lain, dalam pasangan yang sudah mencapai tahap ini, cinta menjadi lebih bersifat psikologis dan spiritual. Bahkan menjadi suatu bentuk dari kebaikan hati yang lahir bukan dari hawa nafsu, melainkan dari kebersihan hati.

Akhirnya, ayat itu ditutup dengan suatu pernyataan yang amat penting, yang menjadi tujuan pembahasan ini, yakni bahwa itu semua adalah pertanda (ayat) Tuhan. Tanda apa? Tanda kesempurnaan Tuhan sebagai obyek sekaligus sumber cinta dan welas asih itu. Yg dengan kecintaanNya kepada kita dan kecintaan kita kepadaNya kita bisa menyatu denganNya. Karena, bukankah pada akhirnya seorang hamba yang beriman harus mencintaiNya?

“Orang-orang beriman sangat dalam cintanya kepada Allah”. Dan bahwa hanya melalui cinta itu kita yang “sesungguhnya milik (berasal dari Allah) kepadanya juga kita (bisa) pulang,” dan dapat bersatu kembali dengan Kekasih sejati kita itu? Dalam konteks inilah Syaikhul Akbar Ibn Arabi menyatakan bahwa pasangan hidup kita harus dapat kita lihat sebagai tajalliyat (pengejawantahan, manifestasi) Allah Swt dalam bentuk manusia. Dan bahwa kebersatuan kita dengan pasangan kita – yang harus terus kita bina, kita latih dan latih tanpa henti itu – sesungguhnya adalah simbol kebersatuan kita dengan Allah Swt. Sekaligus sarana kita memantulkan kecintaan kita kpdNya.

Ini jugalah sebabnya, jelas ibn ‘Arabi di Fushush al-Hikam, Nabi saw menyatakan bahwa perempuan (sifat keperempuanan – bukan keperempuan-perempuanan😊, nisa’) adalah salah satu obyek kecintaan beliau saw:

إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya di antara kesenangan dunia kalian yang Allah buat aku mencintainya adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan kesenangan hatiku terletak di dalam shalat.”

Maka, di tempat lain Syaikh al-Akbar menulis, bersikap sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya, seindah-indahnya kepada pasangan hidup adalah salah satu tujuan penciptaan. Dan bahwa keberhasilan/kebaikan kita dalam kehidupan di mata Allah terletak pada keindahan sikap seseorang kepada pasangan hidupnya.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Meskipun memiliki makna umum, ibn ‘Arabi berpendapat bahwa ayat tersebut terkait dengan keharusan mencintai dan bersikap welas asih kepada pasangan hidup kita serta berbuat seindah-indahnya kepadanya.

Hal ini dipertegas oleh Allah Ta’ala ketika Dia berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka dengan penuh kebaikan.” (QS. An Nisa’: 19).

Yang dimaksud dengan bergaul penuh kebaikan, adalah memberikan seluruh hak pasangan. tidak menyakiti, tidak menangguhkan hak padahal mampu, serta menampakkan wajah manis dan ceria di hadapan pasangan.

Sebagai penutup saya kutipkan perkataan Ibnu Katsir mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai kalian suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)

Dengan kata lain, seluruh kebaikan yg kita ingin pasangan kita menunjukkannya kepada kita, kita pun harus menunjukkannya kepadanya. Ya, betul, suami harus memperlakukan istri sebagaimana ia ingin istrinya memperlakukannya.

Dan seolah ingin menggarisbawahi itu semua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian (para lelaki) adalah yang baik kepada keluarga (istri-anaknya-nya. Sedangkan aku adalah orang yang paling baik kepada keluarga (istri-anakku)” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi, dan Ibnu Hibban).

Demikianlah, kalau bukan karena kedahsyatan makna perkawinan ini, tidaklah Allah dalam al-Qur’an menyebut ikatan pernikahan sebagai “miitsaaqan ghaliizha” (ikatan yg kukuh/sangat agung), yang di tempat lain dalam Kitab-Sucinya dia hanya nisbahkan kepada perjanjian antara diriNya dan para Rasul yang diberiNya beban amat agung untuk menyampaikan risalah dariNya:

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kukuh?” (An Nisa [4]: 21).

Semoga Allah Swt selalu memberikan hidayah (bimbingan), tawfiq (ketaatan), dan ‘inayah (pertolongan) agar kita bisa bersikap ihsan kepada pasangan hidup kita, sehingga kita dapat lulus dari ujian-Nya atas penciptaan kita….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *